Humaniora

Kemarau Panjang dan Kebakaran Lahan Picu Lonjakan Pengangguran

Wacana.info
Kepala BPS Sulbar, Suri Handayani. (Foto/Net)

MAMUJU--Fenomena iklim buruk yang memicu kemarau panjang hingga bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ternyata meninggalkan dampak yang cukup serius bagi denyut ketenagakerjaan di Provinsi Sulawesi Barat. 

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Barat Agustus 2026, tekanan tersebut berimbas pada lonjakan angka pengangguran terbuka serta menyusutnya ketersediaan lapangan kerja di sektor-sektor primer.   

Dikutip dari kompas.com, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulawesi Barat merangkak naik menjadi 2,93 persen atau setara dengan 24,21 ribu orang pada Agustus 2026. Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni Agustus 2025, yang berada di kisaran 2,86 persen atau sekitar 23,60 ribu orang.   

Kepala BPS Provinsi Sulawesi Barat, Suri Handayani menyebut, bahwa gelombang gangguan iklim ini memberikan hantaman langsung pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian serta tumpuan mata pencaharian sebagian besar masyarakat Sulawesi Barat.

"Sektor pertanian yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian dan sumber mata pencaharian masyarakat Sulawesi Barat mengalami penurunan jumlah tenaga kerja," ujar Suri dalam rilis resmi Berita Resmi Statistik BPS Sulawesi Barat, Kamis (05/11).

Suri menambahkan, menurunnya debit air sungai mengakibatkan saluran irigasi di berbagai kabupaten mengalami kekeringan, sehingga mengancam kelangsungan lahan sawah warga serta memaksa terjadinya pergeseran masa tanam. 

Situasinya kian pelik dengan maraknya kejadian karhutla yang melanda sejumlah titik wilayah, yang turut memangkas aktivitas produktif di tingkat lokal.   
"Kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Majene dan Mamuju menyebabkan berkurangnya kebutuhan tenaga kerja pertanian, terutama pada kegiatan penanaman, pemeliharaan, dan panen, serta mempengaruhi kesempatan kerja bagi pekerja musiman dan buruh tani," beber Suri.   

Sebagai efek domino dari terganggunya sektor primer tersebut, angka setengah pengangguran—yakni masyarakat yang terpaksa bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu—juga ikut melonjak tajam hingga menyentuh angka 14,46 persen pada Agustus 2026. (*/Naf)