Ramadhan Kareem

Pemilu Telah Usai; Marhaban Ya Ramadhan

Wacana.info
Ilustrasi. (Foto/Net)

MAMUJU--Untuk skala lokal Sulawesi Barat, seluruh tahapan Pemilu tahun 2024 telah usai. Ditetapkannya hasil rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi baru-baru ini jadi momentum berakhirnya seluruh rangkaian pelaksanaan Pemilu di provinsi ke-33 ini.

Sebagai ajang seleksi elektoral, Pemilu sering diwarnai berbagai macam dinamika di tengah masyarakat. Dinamika yang bahkan cukup sering disertai dengan kegaduhan akibat perbedaan pilihan politik jadi barang yang niscaya di setiap pelaksanaan pesta demokrasi itu.

Bulan suci Ramadhan yang telah ada di depan mata disemogakan mampu untuk menjadi masa dimana segala macam perbedaan pilihan itu dapat diretas. Momentum untuk kembali ke titik ideal dalam hal apa dan bagaimana hubungan antarsesama manusia itu diwujudkan.

"Bulan suci Ramadhan harus menjadi momentum islah. Merekatkan kembali tali persudaraan setelah mungkin kemarin di momentum Pemilu sempat terjadi gesekan di antara masyarakat akibat adanya perbedaan pilihan politik," terang Wahyun Mawardi, Ketua PW Muhammadiyah Sulawesi Barat.

Ketua PW Muhammadiyah Sulbar, Wahyun Mawardi. (Foto/Net)

Masih oleh Wahyun, semangat Ramadhan diharapkan menjadi pelecut bagi siapa saja untuk membuktikan komitemnnya dalam mememperbaiki hubungan antarmanusia. Merekatkan kembali, rukun kembali. 

"Ramadhan ini bukan hanya tentang ibadah yang sifatnya panggilan Allah semata. Ia menjadi bagian untuk memperbaiki hubungan sosial, Ramadhan itu bulan saling berbagi. Bulan dimana kita semua hendaknya meningkatkan ikatan persaudaran di antara kita, bukan hanya diantara umat Islam saja, tapi dengan seluruh manusia," tutup Wahyun Mawardi.

Menapaki Anak Tangga Spritual

Hanya ada dua kondisi, dua keadaan yang menjadi ujung dari setiap pelaksanaan sebuah pesta demokrasi. Kalah dan menang. Pemilu ataupun Pilkada tak mengenal istilah draw. Menurun Nur Salim Ismali, keadaan tersebut jelas berimplikasi pada dua kondisi psikologis dari masing-masing para peserta Pemilu.

"Tentu ada yang kalah ada yang menang. Ada yang bergembira ada yang bersedih. Bagi yang kalah, percayalah bahwa dunia ini belum berakhir. Dan bagi yang menang jangan larut dalam kegembiraan yang berlebih. Tidak selamanya kehidupan itu terus menerus akan bisa memberikan kita kegembiraan," papar Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sulawesi Barat itu.

Ketua LDNU Sulbar, Nur Salim Ismail. (Foto/Instagram)

Ia berharap, segala macam kegaduhan politik yang seolah jadi tema utama di setiap ruang sosial kemasyarakatan selama Pemilu itu dapat diretas seiring bulan suci Ramadhan menyapa seantero jagad raya. Menjaga sakralitas bulan suci Ramadhan dengan mempererat tali silaturrahmi, kata Nur Salim, merupakan sesuatu yang begitu bernilai.

"Kita bicara ibadah, berarti bicara rekonsiliasi sosial. Termasuk yang tak kalah pentingnya adalah membangun semangat kedermawanan. Itu tantangan umat Islam. Kedemawanan itu tidak hanya bicara soal siapa yang kaya. Tapi kedemawanan adalah tentang siapa yang siap berderma di jalan Tuhan," sambungnya.

"Ramadhan kali ini jangan hanya menjadi ritual saja. Perjalanan Ramadhan kali ini idealnya mampu membawa kita untuk menapaki anak tangga spritual. Sulbar ini bukan daerah yang asing kalau bicara tentang ajaran-ajaran para wali Allah. Mari memanfaatkan durasi pelaksanaan ibadah puasa ini semaksimal mungkin," pungkas Nur Salim Ismail. (*/Naf)