HUT Sulbar ke-22

Refleksi HUT Sulbar; Pertumbuhan Ekonomi (Mestinya) Lebih dari Sekadar Angka

Wacana.info
(Foto/Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik)

MAMUJU--Pemerintah provinsi Sulawesi Barat menggelar upacara peringatan HUT provinsi Sulawesi Barat ke-22, Selasa (22/09). Sederet tamu undangan turut hadir pada agenda tersebut.

Dari gubernur Sulawesi Barat periode 2017–2022 Ali Baal Masdar, Konsul Jenderal Australia, Sanci Davis, jajaran pimpinan dan anggota DPRD Sulawesi Barat, Pangdam XXIII/Palaka Wira, Mayjen TNI Jonathan Binsar Parhulutan Sianipar, Kapolda Sulawesi Barat, Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta, jajaran Forkopimda, serta para tokoh pejuang pembentukan provinsi Sulawesi Barat. Hadir pula Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin bersama rombongan, para bupati dan jajaran Forkopimda kabupaten se-Sulawesi Barat, pimpinan instansi vertikal, perbankan, perguruan tinggi, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pendidikan, tokoh pemuda serta tamu undangan lainnya. 

Di kesempatan itu, Gubernur Suhardi Duka menegaskan, peringatan hari Jadi ke-22 provinsi Sulawesi Barat tak hanya menjadi ruang untuk mengenang perjalanan pembentukan daerah. Menurutnya, momentum tersebut hendaknya dijadikan waktu yang tepat untuk mengevaluasi sejauh mana pembangunan telah benar-benar dirasakan masyarakat.

'Mengabdi dan Berkarya Bersama Menuju Sulbar Maju dan Sejahtera' sebagai tema yang diusung di HUT Sulawesi Barat ke-22 tahun ini, hendaknya tak berhenti sebatas slogan semata. Kata Suhardi Duka, tema tersebut harus menjadi arah kerja pemerintah dalam memastikan setiap kebijakan dan anggaran menghasilkan manfaat yang dapat diukur.

“Mengabdi berarti menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Bagi saya, mengabdi berarti menggunakan kewenangan untuk menyelesaikan masalah rakyat,” kata Suhardi Duka.

Berkarya, sambung dia, berarti menghadirkan hasil dari setiap kebijakan dan program. Karena itu, setiap rupiah anggaran yang dibelanjakan pemerintah harus memiliki tujuan yang jelas, penerima manfaat yang terukur, serta dampak yang dapat dilihat.

Suhardi Duka pun mengajak pemerintah dan seluruh elemen masyarakat serta para pemangku kepentingan lainnya untuk melihat pembangunan tidak sebatas angka pertumbuhan ekonomi semata.

“Tapi, seberapa jauh pembangunan yang telah memperbaiki kehidupan rakyat ?. Seberapa besar pertumbuhan ekonomi meningkatkan pendapatan petani dan nelayan ?. Seberapa luas kesempatan yang kita buka bagi generasi muda ?. Dan seberapa efektif anggaran daerah mengubah masalah menjadi hasil nyata,” urai Bupati Mamuju dua periode itu.

Pertanyaan-pertanyaan di atas wajib dijadikan kompas dalam menentukan arah kebijakan di masa yang akan datang. Suhardi Duka lalu membeberkan PDRB per kapita Sulawesi Barat yang pada awal pembentukannya ada di kisaran Rp 4,45 Juta. Di tahun 2025, angkanya telah menyentuh Rp 46,65 Juta.

Bagi Suhardi Duka, angka tersebut menunjukkan perubahan ekonomi Sulawesi Barat di rentang waktu 22 tahun terakhir. Meski di sisi lain, ia dengan tegas menyebut angka pertumbuhan ekonomi bukanlah tujuan akhir.

“Pertumbuhan ekonomi harus mengubah kehidupan rakyat, harus menambah pendapatan, harus membuka lapangan kerja, harus menurunkan kemiskinan dan harus memberikan kesempatan yang lebih besar bagi masyarakat untuk hidup layak,” Suhardi Duka dalam penegasannya.

Di bidang infrastruktur, mantan anggota DPR RI itu mengungkap adanya penambahan anggaran untuk rehabilitasi jalan, jembatan serta irigasi. Dari sekitar Rp 85,03 Miliar di 2025 menjadi Rp 200 Miliar pada tahun 2026.

Pemerintah juga menyalurkan bantuan untuk sektor pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan dengan total lebih dari Rp 34 Miliar serta dukungan sarana bagi UMKM sekitar Rp 10 Miliar.

Masih oleh Suhardi Duka, angka kemiskinan di provinsi Sulawesi Barat berada di kisaran 10 Persen. Data BPS untuk September 2025 mencatat persentase penduduk miskin di provinsi ke-33 ini sebesar 10,18 Persen, dengan jumlah penduduk miskin 149,88 Ribu jiwa.

“Di balik angka itu masih ada 148 ribu lebih saudara kita yang membutuhkan kehadiran pemerintah. Karena itu pekerjaan kita belum selesai. Tugas kita adalah memastikan mereka bukan hanya keluar dari garis kemiskinan, tapi benar-benar naik kelas dan memiliki kehidupan yang lebih baik,” harapnya.

Intervensi pemerintah berupa bantuan sosial, paket Sembako, bantuan kelompok usaha bersama, unit usaha produktif, pembangunan dan rehabilitasi rumah tidak layak huni hingga bantuan listrik murah akan terus dilanjutkan.

Suhardi Duka juga menyinggung Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Suhardi menyebut, IPM Sulawesi Barat du tahun 2025 mencapai 71,16. Angka tersebut juga tercatat dalam data resmi BPS dan meningkat 0,70 poin jika dibandingkan kondisi di tahun 2024.

Dalam memperkuat sektor kesehatan, pemerintah provinsi Sulawesi Barat juga telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 31,82 Miliar untuk sejumlah program. Termasuk perluasan cakupan kesehatan, pencegahan dan penanganan stunting, pemenuhan gizi, skrining kesehatan reproduksi remaja serta pemenuhan tenaga dokter spesialis.

Di bidang pendidikan, jumlah penerima beasiswa yang disebut Suhardi meningkat dari 561 orang pada 2025 menjadi 1.040 orang pada 2026. Program prioritas yang menelan anggaran mencapai lebih dari Rp 7 Miliar.

Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) juga jadi prioritas gubernur Suhardi Duka. Ia mengungkapkan, jumlah ATS yang sebelumnya ada di anga 37 Ribu lebih, jumlahnya kini terus berkurang setelah beberapa diantaranya telah kembali ke bangku sekolah.

Pada sektor ketenagakerjaan, Suhardi menyebut, Tingkat Pengangguran Terbuka Sulawesi Barat pada Mei 2026 berada di angka 2,8 Persen. Ia menilai, tantangan berikutnya adalah memperbesar proporsi pekerjaan formal dan menciptakan pekerjaan yang lebih produktif serta memberikan kehidupan yang lebih baik bagi pekerja.

Untuk itu, pemerintah daerah menjalankan program padat karya di 334 titik di tahun 2026 dengan dukungan anggaran sekitar Rp 50,94 Miliar. Program yang disebut bakal menyerap sekitar 7.900 tenaga kerja. Pelatihan keterampilan kerja juga disiapkan dengan anggaran sekitar Rp 1,2 Miliar.

Suhardi juga menyinggung ketimpangan pendapatan. Berdasarkan data yang ia beberkan, gini ratio Sulawesi Barat pada Maret 2026 berada di angka 0,314, lebih rendah dibanding angka nasional 0,368.

Prof. Basri Hasanuddin. (Foto/Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik)

“Sulawesi Barat yang kita cita-citakan bukan hanya Sulawesi Barat yang bertumbuh tinggi. Kita ingin Sulawesi Barat yang pertumbuhannya tinggi dan hasilnya dirasakan oleh semua masyarakat,” masih oleh dia.

Sejumlah penghargaan yang diterima pemerintah provinsi Sulawesi Barat juga dibeberka Suhardu Duka. Mulai dari kinerja TPID, digitalisasi daerah, UHC, transformasi sumber daya manusia, penurunan pengangguran, konektivitas digital, reformasi hukum dan implementasi program tiga juta rumah.

Bagi Suhardi, capaian tersebut tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses evaluasi, bukan alasan untuk berhenti bekerja.

Ia mengingatkan bahwa perjalanan Sulawesi Barat di 22 tahun terakhir tidak lepas dari berbagai tantangan. Mulai dari pandemi Covid-19, gempa bumi, banjir, tanah longsor, angin kencang, kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan.

“Di tengah berbagai bencana ada hal yang tidak boleh ikut longsor, yaitu semangat kita untuk membangun. Ada harapan yang tidak boleh ikut terbakar bersama hutan dan lahan. Ada tekad yang tidak boleh hanyut bersama banjir, yaitu tekad untuk menyejahterakan rakyat,” papar Suhardi.

“Sulawesi Barat tidak akan maju hanya dengan kerja seorang gubernur. Tidak akan maju hanya dengan kerja pemerintah. Tetapi baru akan maju ketika seluruh masyarakatnya bergerak dalam satu semangat,” serunya.

Ia mengajak seluruh masyarakat meneruskan perjuangan para pendahulu, menjaga capaian yang sudah baik, memperbaiki kekurangan dan mewariskan Sulawesi Barat yang lebih maju, adil, tangguh dan sejahtera kepada generasi berikutnya.

“22 tahun kita lewati, masih panjang jalan yang harus kita tempuh, besarnya cita-cita yang harus kita wujudkan. Saya percaya selama kita mau mengabdi, mau berkarya dan mau berjalan bersama, tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk Sulawesi Barat,” Suhardi Duka menutup.

Sulbar di Arah yang Benar

Salah seorang tokoh kunci pejuang pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, Prof Basri Hasanuddin menyuarakan apresiasnya atas perjalanan daerah ini yang telah ada di langkah ke-22 tahun. Puja puji Prof Basri juga tertuju kepada gubernur Suhardi Duka untuk setiap pencapaiannya.

"Selamat bagi Sulbar yang hari ini berusia 22 tahun. Sepanjang yang kita lihat dan kita saksikan, Sulbar saat ini posisinya cukup bagus," ujar Prof Basri.

"Selamat kepada Gubernur Suhardi Duka atas prestasinya yang cukup bagus dalam waktu singkat ini. Tadi sudah disebutkan dan kita sudah dalam arah yang benar. Kita mulai memakmurkan rakyat Sulbar," sambungnya.

Menurut Prof Basri, pendekatan yang mengedepankan kepentingan rakyat dan kebersamaan menjadi salah satu hal positif dalam kepemimpinan pemerintah provinsi saat ini.

Prof. Basri Hasanuddin. (Foto/Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik)

"Cukup bagus saya lihat. Apalagi dengan pendekatan-pendekatan kerakyatan dan kebersamaan yang dilakukan oleh Gubernur. Saya kira cukup bagus itu," ungkap dia.

Memasuki usia 22 tahun, Prof Basri berharap, Sulawesi Barat dapat mengambil langkah yang semakin terarah dan tajam dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia menekankan pentingnya efisiensi dalam pengelolaan pemerintahan dan penggunaan anggaran agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Saya harapkan bahwa kita makin tajam langkah kita ke depannya. Rakyatnya makin sejahtera, efisien, jangan boros. Setiap rupiah yang kita keluarkan itu untuk kepentingan rakyat,” tegasnya.

Selain perihal kesejahteraan dan tata kelola pemerintahan, Prof Basri juga menyinggung aspek kebudayaan yang menurutnya penting untuk diperhatikan. Budaya Sulawesi Barat, kata dia, perlu terus dikembangkan seiring perubahan zaman, khususnya di tengah perkembangan teknologi.

"Kita harus mendinamisir budaya kita. Kemarin kita ada seminar budaya. Budaya kita harus dihidupkan, karena keadaan sudah berubah. Kita sudah di era teknologi," harapnya.

"Budaya yang bagus kita melanjutkan. Kearifan lokal itu tetap kita pelihara. Tapi yang menunjang untuk kemajuan Sulbar,” pinta Prof Basri Hasanuddin. (*/Naf)