‘Sekomandi To Makki’, Bukan Film Biasa

MAMUJU--Komunitas sinematografi Mamuju yang menamakan dirinya 'Maerre Films' sedang dalam tahap penyelesaian film bertajuk 'Sekomandi to Makki'. Film yang bergendre semi dokumeter itu diproyeksikan bakal menambah pengetahuan publik seputar kain tenun khas Kalumpang dan Bonehau, sekomandi.
Tak hanya itu saja, film tersebut juga akan menguliti satu suku yang belum banyak diketahui publik khususnya di Sulawesi Barat, suku Makki.
Sutradara Sekomandi to Makki, Muhammad Aswad menjelaskan, proses pengambilan gambar untuk film tersebut telah diselesaikan. Mengambil lokasi utama di kecamatan Kalumpang, Mamuju, beberapa narasumber utama yang berhasil ditemui oleh kru film untuk melengkapi referensi dari penggarapan film tersebut.
Proses Shooting Film 'Sekomandi to Makki'. (Foto/Maerre Films)
"Kita shooting selama satu minggu. Lokasinya shootingnya di desa Kondo Bulo penenun dan desa Siraun, kecamatan Kalumpang," papar Aswad kepada WACANA.Info, Selasa (10/03).
Dua narasumber utama dalam penggarapan film tersebut masing-masing budayawan, penulis buku asal Kalumpang, Silas Salamangi serta penenun kain sekomandi, Marlin Sa'bo Kutara. Aswad mengatakan, dari kedua tokoh itu diperoleh banyak informasi valid seputar suku Makki dan bentuk kebudayaannya berupa kain sekomandi.
"Makki itu suku yang hilang, termasuk di dalamnya Bonehau. Selama ini, masyarakat di sana (Bonehau dan Kalumpang) kalau ditanya orang tentang sukunya apa, mereka juga bingung mau jawab apa. Sebab jelas, kultur mereka beda dengan apa yang berlaku di Mamuju," terang Aswad.
Proses Shooting Film 'Sekomandi to Makki'. (Foto/Maerre Films)
Saat ini, potongan-potongan gambar hasil shooting di kecamatan Kalumpang sedang dalam proses editing. Aswad mengatakan, dalam waktu yang tidak lama lagi, Sekomandi to Makki sudah bisa ditonton oleh masyarakat umum.
"Harapan kami, film ini bisa menjadi referensi pengetahuan bagi kita semua tentang nilai dan bentuk kebudayaan yang wajib untuk senantiasa kita lestarikan bersama. Sebab kami yakin, sebuah peradaban tanpa kelestarian kebudayaan itu layaknya seperti tubuh yang berjalan namun tanpa kepala," pungkas Muhammad Aswad. (Naf/B)