Duka di Kandemeng, DPRD Minta Pemprov Back Up Pemkab Polman

Wacana.info
Rapat Koordinasi Terbatas Bersama Forkopimda dan para Bupati se-Sulawesi Barat Digelar Secara Virtual. (Foto/Humas Pemprov Sulbar)

MAMUJU--Belasan warga Kandemeng, desa Batulaya, kecamatan Tinambung, Polman, saat ini tengah menjalani proses karantina akibat virus corona (penyebab covid-19) yang menjangkitinya. Kondisi tersebut bikin roda perekonomian di daerah tersebut nyaris tak lagi berputar.

Wakil Ketua DPRD Sulawesi Barat, Abdul Rahim meminta agar pemerintah provinsi Sulawesi Barat memback up setiap upaya pemerintah kabupaten Polman dalam menyelesaikan persoalan sosial ekonomi pasca Kandemng jadi salah satu kluster penyebaran virus corona di Sulawesi Barat. 

"Masyarakat Kandemeng berharap Pemprov Sulbar ikut memback up Pemkab Polewali Mandar agar kondisi di sana bisa segerah pulih kembali," ungkap Abdul Rahim saat menghadiri rapat virtual koordinasi terbatas bersama Forkopimda dan para Bupati se-Sulawesi Barat, di ruang oval kantor Gubernur Sulawesi Barat, Senin (11/05).

Politisi NasDem itu mengungkapkan, Kandemeng yang saat ini jadi episentrum penyebaran covid-19 di Sulawesi Barat benar-benar telah melumpuhkan pergerakan perekonomian masyarakat di sana.

"Ini disebabkan adanya stigmanisasi bahwa Kandemeng ini daerah yang sangat berbahaya, sehingga seluruh pedagang di sana betul-betul dijauhi masyarakat," cetus Abdul Rahim seperti dikutup dari rilis Humas pemerintah provinsi Sulawesi Barat.

Menanggapi hal itu Sekretaris Daerah provinsu Sulawesi Barat, Muhammad Idris menjelaskan, pihaknya bakal turun tangan membatu pemerintah kabupaten Polewali Mandar dalam menangani pesoalan yang terjadi di Kandemeng.

"Tentu Pemprov akan turun tangan sepanjang ada informasi bahwa Pemkab Polewali Mandar butuh dukungan cepat," terang Idris.

Masih kata Idris, pemerintah kabupaten Polewali Mandar pun wajib untuk tetap melakukan pengawasan di Kandemeng, terlebih setelah daerah itu kini jadi episenturum penyebaran covid-19.

"Sebab jangan sampai daerah tersebut dianggap sudah aman padahal tidak," sebutnya. (*/Naf)