Harapan di Tengah Corona

Wacana.info
Suhardi Duka. (Foto/Facebook)

Oleh:  DR. H. SUHARDI DUKA, M.M (Anggota DPR-RI)

Dalam beberapa hari terakhir, di tengah program social distancing atau jaga jarak serta di rumah saja ini, banyak yang menghubungi saya; Bapak dimana ?, apa saya bisa ke rumah Bapak ?, Bapak bisa berkunjung atau apakah bisa ke kebun... dan lain-lain...

Jawaban saya pun variatif, mengukur kadar kepentingan pesan yang saya berikan dan yang dibutuhkan publik.

Covid-19 banyak mengubah perilaku publik dalam berbagai hal termasuk kecemasan, bermedia sosial, baik yang positif maupun meme-meme lucu dan bahkan kritik pedas serta satire yang bermakna optimis maupun pesimis.

Dalam berbagai literatur yang ada, bila suasana seperti ini terjadi di tengah publik maka kehadiran pemimpin di tengah rakyat sangat dibutuhkan. Itu penting utamanya dalam memberi kepastian tentang kebijakan yang kuat (strong police) yang diambil oleh seorang pemimpin dalam memberi motivasi kepada publik untuk berpikir optimis dalam menghadapi persoalan yang berat seperti mengahdapi pandemi covid-19 ini.

Seperti halnya pesan Presiden Ghana, Nana Akufo Addo yang menegaskan bahwa demi untuk menyelamatkan nyawa rakyatnya kebijakan lock down adalah jalan utama yang harus diambil. 

"Saya tahu ekonomi akan memburuk. Saya tahu cara membangun kembali ekonomi negara ini, tapi saya tidak tahu menghidupkan kembali rakyat yang akan mati (akibat covid-19)," kira-kira begitu kata Nana Akufo Addo.

Dengan pesan yang tegas ini, rakyat Ghana ikut dan rela merasakan buruknya ekonomi negaranya serta menyetujui sikap Presidennya karena tahu pilihannya sulit. Walau sulit tapi dia memilih itu demi keselamatan rakyatnya.

(Presiden Ghana, Nana Akufo Addo/Foto: Net)

Beda halnya dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi yang meminta maaf kepada kaum miskin di negeri itu akibat kebijakan look down yang diterapkan mines persiapan yang matang. Rakyat india justru berbondong-bondong mudik akibat ketidakjelasan kebijakan pemerintahnya.

Dalam kitab Sutasoma, ukuran moralitas pemimpin itu muncul dari rakyat. Dia tumbuh dari pergulatan yang jujur dan bertanggung jawab bersama rakyat. Pemimpin yang hebat tidak bisa tinggi bagai menara gading jauh dan terasing dari rakyatnya.

Sebaliknya ciri pemimpin yang buruk menurut Jean Lipman dalam buku The Allure to Toxic leaders (2004) adalah ia yang memiliki karisma yang buruk, berkarakter lemah, haus pujian dan terlalu memandang tinggi diri sendiri.

Kondisi Indonesia saat ini apapun posisi pemimpinnya selalu dibutuhkan kekuatan bersama bila menghadapi situasi seperti ini. Bangsa ini tidak boleh berpikir mundur dalam menghadapi pandemi yang luar biasa ini. Kekuatan harus terbangun dalam skala sosial bersama.

(PM India, Narendra Modi/Foto: Net)

Yang kuat membantu yang lemah. Pemerintah memastikan ketersediaan pangan dan proteksi kesehatan utamanya bagi para dokter dan petugas medis lainnya.

Kebiajakan pemerintah Jokowi sesungguhnya telah mengarah pada sasaran yang lebih jelas, dengan alokasi anggran yang cukup besar; Rp 400 Triliun lebih dalam menangani covid-19. Termasuk berbagai stimulus yang dapat dimanfaatkan untuk rakyat dalam mengurangi beban hidupnya selama masa pandemi dan pasca pandemi kelak.

Hanya saja keraguan rakyat juga meninggalkan pesimisme tentang kemampuan pemerintahnya dalam menghadapi pandemi covid-19 ini. Komunikasi publik yang kurang baik, cenderung tumpang tindih antar pejabat.

Begitupun pilihan kebijakannya yang kurang prioritas. Misalnya keengganan dalam merelokasi proyek-proyek mercusuar seperti IKN dan infrastruktur yang dinilai tidak mendesak bahkan justru menambah utang baru. 

Tapi apapun namanya, Presiden Jokowi telah mengambil pilihan untuk penanganan covid-19, dan itu perlu mendapat dukungan.

Sebagai salah seorang yang berada di tataran kebijakan pusat, saya ingin memastikan kepada publik bahwa kesadaran pemimpin di Negeri ini sangat kuat dan fokus untuk menangani pandemi. Baik itu di sektor keuangan maupun kebijakan dalam penangan pandemi dan dampak ekonominya. 

Di Komisi IV DPR-RI, kami bersama jajaran Kementan, KKP, KLHK dan Bulog sepakat untuk memastikan bahwa sampai dengan lima Bulan dan selama tahun 2020 produktifitas dan ketersediaan pangan harus tetap terjaga.

Ekonomi harus tetap bergerak di desa dan mendorong program padat karya serta berjalannya kegiatan di sektor pertanian. Walaupun rapat digelar secara virtual, kami tetap harus mengambil keputusan yang cepat demi untuk rakyat yang sebentar akan merasakan dampak ekonomis utamanya dalam memasuki bulan suci Ramadhan.

Pemimpin harus menjaga dan mengawasi bahwa tidak boleh ada mafia ataupun orang tertentu yang bisa mengambil manfaat pribadi dalam situasi seperti ini. Jangan ada satu kekuatan yang Untung dan diuntungkan akibat covid-19.

Demikianpun kepemimpinan di daerah harus dapat menopang dan mengambil kebijakan yang dapat dirasakan oleh rakyat dengan cepat dan tepat. Kreatif tidak menunggu hanya uluran tangan dari pemerintah pusat.

Tahu kondisi sosial ekonomi rakyat di daerah adalah kunci dalam pengambilan keputusan seorang kepala daerah. Tidak pilih kasih dan politis dalam setiap sikapnya. Persoalan covid-19 bukan politis, tapi murni persoalan sosial ekonomi dan keselamatan rakyat.

'Jaga emosi dan tetap bahagia agar auto imun tetap terjaga'

Rumah Puncak, 6 April 2020