Nafas Ekonomi di Sulbar Ditopang oleh Dua Sektor Utama, CPO Salah Satunya

Wacana.info
Guru Besar Fakultas Pertanian Unhas Makassar, Laode Asrul Saat Berbicara di Seminar Peningkatan Kompetensi Wartawan dan Humas Pemerintah Tentang Industri Kelapa Sawit Indonesia. (Foto/Manaf Harmay)

MAMUJU--Denyut perekonomian di provinsi Sulawesi Barat selama ini 'hanya' ditopang oleh dua sektor utama. Hal itu disampaikan Sekprov Sulawesi Barat, Muhammad Idris saat menghadiri seminar peningkatan kompetensi wartawan dan Humas pemerintah tentang industri kelapa sawit Indonesia di d'Maleo hotel Mamuju, Kamis (14/11).

Menurut Idris, dua sektor utama yang dimaksud adalah pemerintahan dalam hal ini APBD, serta investasi wa bil khusus  minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO).

"Dari analisi BI, daerah ini hanya hidup dengan 2 wings (sayap). Karena kita daerah baru, ia baru digerakkan oleh pemerintah, APBD. Yang kedua CPO. Sulbar ini, kalau nyawanya mau dihentikan, hentikan yang dua itu," beber Muhammad Idris dalam seminar yang diselenggarakan Persatuwan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Barat itu.

Dari data yang diperolehnya, Idris mengungkapkan, terdapat 17 perusahaan yang bergerak di industri perkebunan kelapa sawit di Sulawesi Barat. 

"Ini juga luar biasa, seluas 79 ribu Ha luas lahan yang dikelola. terdiri dari kebun inti seluas 43 Ribu Ha, plasma 16 Ribu Ha," urai dia.

Waspada Bibit Kelapa Sawit Palsu !

Seminar peningkatan kompetensi wartawan dan Humas pemerintah tentang industri kelapa sawit tersebut mendudukkan sejumlah narasumber sebagai pembicara utama. 

Mereka diantaranya, Ketua Bidang ATR GAPKI Pusat, Eddy Martono, Guru Besar Fakultas Pertanian Unhas Makassar, Laode Asrul, Pemimpin Umum Warta Ekonomi, Muhammad Ihsan, Ketua GAPKI Sulawesi, Donni Yoga, dan Kepala Divisi UKMK BPBD KS, Helmi Muhansah.

Hal menarik disampaikan Laode Asrul. Menurutnya, yang mesti diwaspadai dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit saat ini adalah maraknya peredaran bibit palsu.

Ahli tanaman kakao itu menilai, peredaran bibit palsu di Indonesia saat ini sudah ada di titik yang cukup mengkhawatirkan.

"Kita di Indonesia, benih palsu ada di angka 30 persen lebih. Beda Malaysia yang bibit palsunya hanya di kisaran 10 Persen," ungkapnya.

Apalagi di hari-hari jelang pelaksanaan momentum politik. Menurut Laode Asrul, peredaran benih palsu meningkat drastsi di waktu-waktu itu.

"Ini yang perlu diantisipasi. Karena biasanya, dia banyak masuk di jelang momentum politik. Ini semua yang jadi salah satu penyebab sehingga produksi kita lebih rendah dari negara lain," terang Laode Asrul.

Jika menginginkan sektor kekapa sawit dapat benar-benar berhasil, Laode Asrul meminta kepada semua pihak terkait untuk menjadikan benih (bahan tanaman), lingkungan dan pengelolaannya sebagai tiga poin utama yang wajib dimaksimalkan.

"Ketiganya harus dipastikan. Jangan sampai benihnya sudah bagus, tapi lingkungan yang tidak pas. Atau karena pengelolaannya yang tidak maksimal. Tiga poin ini yang mesti dipastikan," pungkas Laode Asrul. (Naf/B)