Membincang Nasib Nelayan Sulbar di Forum Kenelayanan

Wacana.info
Konfrensi Pers Jelang Forum Kenelayanan Sulbar. (Foto/Firdaus Paturusi)

MAMUJU--Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Sulawesi Barat menginisasi pertemuan seluruh stakeholder perikanan dalam sebuah kegiatan bertajuk forum kenelayanan. Jika tak ada aral melintang, forum kenelayanan bakal digelar di ball room d'Maleo hotel Mamuju, Selasa, 5 November besok.

Ada sejumlah isu penting yang akan dibincang di forum tersebut. Mulai dari kurang maksimalnya pemanfaatan sumberdaya kelautan di tengah melimpahnya potensi yang ada, minimnya fasilitas sarana penangkapan dan pelabuhan, jumlah nelayan di Sulawesi Barat yang terus berkurang, hingga bagaimana merebut peluang pasca keputusan pemindahan Ibu Kota Negara. Semuanya akan dibincang di forum kenelayanan.

Ketua Ikatan Sarjana Perikanan (Ispikani) Sulawesi Barat, Dr. Suyuti Marzuki menjelaskan, forum kenelayanan diharapkan menjadi momentum awal pembangunan sektor perikanan tangkap di Sulawesi Barat. Kata dia, forum kenelayanan harusnya tak sekedar pertemuan saja kemudian selesai.

"Tapi ada strategi yang ingin kita bangun. Strategi pokok tentang apa yang harus dilakukan. Termasuk memahami apa kelemahan kita," papar DR. Suyuti dalam konfrensi pers di Warkop Ngalo, Karema, Mamuju, Minggu (2/11).

Dalam pengamatan Dr. Suyuti, mayoritas nelayan di Sulawesi Barat sampai saat ini masih melakoni aktivitas pemanfaatan sumberdaya kelautan itu dengan menggunakan cara-cara yang masih sangat tradisional. Mekanisasi di sektor pemanfaatan sumberdaya kelautan, menurut Dr. Suyuti belum jadi poin yang begitu terjamah.

Gambaran Umum Provinsi Sulawesi Barat. (Foto/Istimewa)

"Kita berusaha untuk agar ada upaya mekanisasi di sektor pemanfaatan sumberdaya kelautan itu. Sebut saja misalnya jika Sulbar punya kapal penangkapan berukuran di atas 100 GT, itu sudah bisa menambah PAD di Sulbar. Makanyam forum kenelayanan nanti akan menghadirkan Dirjen Perikanan Tangkap, KKP," urai dia.

Apapun rekomendasi yang dihasilkan di forum kenelayanan nantinya, menurut Dr. Suyuti, hendaknya dijadikan pijakan utama dalam hal menentukan arah kebijakan pembangunan daerah. Poin rekomendasi forum kenelayanan itu juga wajib untuk mendapat pengawalan dari semua pihak.

"RPJMD kita alokasinya itu fokusnya ke perikanan. Yang keliru selama ini karena isu ini tidak dikawal dengan baik oleh masyarakat," begitu kata Dr. Suyuti Marzuki.

Jumlah Nelayan di Sulbar Menurun Drastis, Ada Apa ?

Sulawesi Barat adalah daerah yang sebagian besar wajahnya ada di pesisir. Dengan panjang garis pantai 617, 5 Km, lima dari enam kabupatennya berdiri di sepanjang pesisir pantai.

Hal tersebut bikin sebagian besar masyarakat Sulawesi Barat menggantungkan hidupnya dari sektor pemanfaatan sumberdaya kelautan. Namun faktanya, jumlah nelayan di Sulawesi Barat dari tahun ke tahun terus menurun.

Data yang diperoleh WACANA.Info menyebut, di tahun 2014 jumlah nelayan di Sulawesi Barat ada di angka 57.533, menurut drrastis dengan kondisi di tahun 2018 yang 'hanya' 32.156 saja. Semakin rumit lagi jika melihat kemampuan pelabuhan perikanan di Sulawesi Barat yang oleh boleh dikata kurang memadai dalam hal pemanfaatan keberlimpahan sumberdaya kelautan itu.

Jumlah Nelayan, RTP Nelayan, Produksi Perikanan Tangkap, dan Armada Perikanan Tangkap dari Tahun ke Tahun di Sulbar. (Foto/Istimewa)

Sekrertaris Ispikani Sulawesi Barat, Wawan Jurwanto mengatakan, forum kenelayanan tersebut akan dijadikan wadah besar untuk membincang sekelumit permasalahan di atas. Termasuk mencari solusi terbaik demi kebaikan masyarakat.

"Jumlah nelayan kita menurutn drastis. Ini ada apa ?. Kemana mereka ?. Daerah harus mengkaji strateginya, sebab memang sektor ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah kita," ucap Wawan.

Forum kenelayanan, lanjut Wawan, juga akan dimanfaatkan sebagai sarana menyampaikan segala keluh kesah di sektor perikanan kepada Dirjen Perikanan Tangkap, KKP yang dijadwalkan bakal hadir.

"Syukur-syukur kalau misalnya Sulbar dapat perhatian dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Misalnya kalau ada anggaran, kita bisa manfaatkan untuk mengembangkan pelabuhan perikanan kita yang sudah ada. Sebab, sayang sekali kalau misalnya kekayaan kelautan kita itu tidak dinikmati di Sulbar, hanya karena pelabuhan dan fasilitas lainnya kurang maksimal di kita," sebut Wawan Jurwanto, pria yang juga Plh. Kabid Perikanan Tangkap, Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Sulawesi Barat.

Pentingnya Sustainability

Prinsip keberlanjutan (Sustainability) tak boleh dikesampingkan jika ingin membincang sumberdaya kelautan. Benar, jika parairan Sulawesi Barat punya potensi yang melimpah dan belum dimaksimalkan pemanfaatannya. Tapi prinsip keberlanjutan itu wajib untuk dikedepankan.

Bukan sekedar melakukan penangkapan secara terus menerus, tanpa memikirkan sisi Sustainability-nya. Hal itu disampaikan ahli alat penangkapan dari Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) Semarang, Dr. Suparman Sasmita. 

Produksi Perikanan Tangkap Jenis Tuna, Perahu yang Bisa Diandalkan, Musim Penangkapan Tuna, serta Harga Pemasaran Tuna. (Foto/Istimewa)

"Yang juga jauh lebih penting adalah bagaimana nelayan itu berfikirnya untuk menjaga kelestarian sumberdaya yang berlimpah tersebut. Pemahaman nelayan itu kan tidak semua sama, sayang kalau hari ini tuna masuk ke mamuju, tapi kalau dirusak, belum tentu dia bisa masuk lagi," cetus Dr. Suparman.

Transoformasi pengetahuan dan pemahaman kepada nelayan tentang pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya kelautan, menurut Dr. Suparman mesti jadi salah satu langkah yang juga wajib dilakukan oleh semua pihak.

"Kita harus bisa memberi pemahaman yang baik soal pelestarian segala potensi yang luar biasa itu. Ini penting agar kekayaan itu tidak hanya dinikmati sekarang, tapi sampai di anak cucu kita kelak," simpul Dr. Suparman Sasmita.

Selain akan dihadiri Dirjen Perikanan Tangkap, KKP, Dr. M. Sulficar Mochtar, juga akan mendudukkan pejabat dari Bappenas. Termasuk Staf Ahli Gubernur bidang Ekonomi Pembangunan dan Keuangan, Dr. Parman Parakkasi, serta Ketua Forum CSR kesos Sulawesi Barat, Naharuddin. 

Gubernur Sulawesi Barat, Ali Baal Masdar juga dijadwalkan bakal hadir di forum kenelayanan tersebut. Termasuk semua pihak yang punya keterkaitan langsung di pada sekotor perikanan dan kelautan di Sulawesi Barat. (Naf/A)