Duet Habsi-Irwan Berlanjut, Tina Tetap‘ Santuy’

Wacana.info
Ilustrasi. (Foto/Net)

MAMUJU--Habsi Wahid dan Irwan Pababari bersepakat untuk kembali berpasangan sebagai calon Bupati dan calon Wakil Bupati Mamuju di Pemilukada tahun 2020. Kesepakatan tersebut seolah menegaskan serangkaian kabar sebelumnya yang menyebut petahana akan berlanjut ke 'jilid II'.

Kesepakatan untuk kembali berduet di Pemilukada Mamuju antara Habsi-Irwan ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama di antara kedua keluarga besar; keluarga besar Habsi Wahid dengan keluarga besar Irwan Pababari. 

Rujab Wakil Bupati Mamuju pun jadi saksi persekutuan di antara keduanya, Jumat (1/11).

Kesepakatan Bersama Habsi-Irwan Jilid II. (Foto/Manaf Harmay)

Selain melibatkan kedua keluarga besar itu, penandatanganan kesepakatan bersama tersebut juga diikuti dengan meleburnya beberapa komunitas atau gerbong. Baik yang dibina Habsi Wahid, maupun yang dikomandoi langsung Irwan Pababari. 

Hal tersebut ditandai dengan kehadiran ribuan orang dari ragam komunitas utama pendukung Habsi-Irwan yang memadati Rujab Wakil Bupati Mamuju.

Naskah kesepakatan bersatunya kembali Habsi-Irwan diteken langsung oleh kedua sosok tersebut. Disaksikan oleh beberapa nama mewakili kedua keluarga besar Habsi-Irwan, serta tentunya para komunitas, simpatisan dan pendukung Habsi Wahid dan Irwan Pababari.

Deretan nama yang didaulat menjadi saksi atas tercapainya persekutuan tersebut masing-masing; H Samiran, Muhammad Jayadi dan H Rusli Muis, ketiganya jadi saksi dari pihak Habsi Wahid.

Habsi Wahid Pada Kesepakatan Bersama Habsi-Irwan Jilid II. (Foto/Manaf Harmay)

Sementara H Andi Maksum Dai dan Almalik Pababari jadi perwakilan sakis dari pihak Irwan Pababari.

"Kesepakatan ini bukan sesuatu yang mendadak, tapi sungguh ini semua telah melewati sebuah perenungan. Termasuk evaluasi hingga komitmen ini bisa terjadi," beber Habsi Wahid.

Habsi meyakini, di kepemimpinannya bersama Irwan Pababari selama empat tahun terakhir, ada banyak kebijakan yang telah sukses bikin masyarakat merasakan manfaatnya. 

Ia pun optimis menatap Pemilukada Mamuju tahun 2020 bersama Irwan dengan pertimbangan betapa janji politik yang terucap di Pemilukada tahun 2015 lalu kini telah tertunaikan.

"Dinamika memang terjadi. Ada yang mungkin tidak sepaham, ada yang sepaham. Itu yang kami konslitasikan selama ini. Kami melakukan itu dengan suasana yang penuh kesejukan. Kami sama-sama bersepakat, dengan hati yang tulus bahwa mari kita bersama-sama kembali untuk bagaimana kita menggayuh perahu ini secara bersama-sama," sambung Habsi yang Ketua DPW NasDem Sulawesi Barat itu.

"Hancur kita sama-sama, jatuh kita sama-sama. Ketika bangkit, mari bersama-sama masyarakat yang kita sejahterakan," begitu kata Habsi Wahid.

Warning Almalik Pababari

Habsi-Irwan memang telah memastikan diri untuk kembali berdampingan di Pemilukada Mamuju tahun depan. Naskah kesepakatan kedua keluarga besar pun sudah dibubuhi tandatangan, lengkap dengan materai.

Kendati begitu, ada kesepakatan lain yang tak diumbar ke publik. Setidaknya, itu yang disampaikan Almalik Pababari. Kata dia, komitmen yang ia maksud itu mencakup banyak hal yang 'maha penting'.

Habsi Wahid Menandatangani Kesepakatan Bersama Paket Habsi-Irwan Jilid II. (Foto/Manaf Harmay)

Ayah dari Irwan Pababari itu bahkan tak segan untuk menarik putranya dari ikatan kesepakatan yang telah diteken di atas jika 'komitmen di belakang layar' tersebut tak dijalankan.

"Kami ada perjanjian moral yang tidak perlu disampaikan di tempat ini. Ada dokumen (kesepakatan) asli yang tidak perlu disampaikan. Kalau itu dilanggar, kita bubarkan. Saya sendiri yang akan menyeret Irwan Pababari untuk keluar dari kesepakatan ini," tegas Almalik Pababari, mantan Bupati Mamuju yang kini jadi Senator itu.

Tina Suhardi yang Tak Bergeming

Keputusan Habsi-Irwan untuk melanjutkan kebersamaannya di Pemilukada Mamuju ditanggapi 'santuy' oleh kandidat calon Bupati Mamuju, Sutinah Suhardi. Ketua MPC Pemuda Pancasila Mamuju tersebut menegasakan, dirinya hanya fokus pada pencalonan saja, tanpa terpengaruh dengan isu-isu lainnya.

"Kita tidak ada beban dengan siapa berpasangan siapa di Pilkada Mamuju. Fokus kita dari pertama hanya pada pencalonan Bupati saja. Bukan masalah kalau Habsi-Irwan akan berpasangan kembali sebab desain awal kita justru begitu," beber Sutinah dikutip dari rilis media perspektif Mamuju, Sabtu (2/11).

Sutinah Suhardi. (Foto/Istimewa)

Hal senada juga disampaikan Direktur Perspektif Mamuju, Yuslifar. Ia bahkan menyebut, jilid II dari sang petahana itu merupakan bukti betapa skenario yang telah dijalankannya selama ini sudah menemukan titik terang. Jilid II Habsi-Irwan, kata Yuslifar, sudah jadi desain gerakan Sutinah.

"Simulasi dan pemetaan sudah dibuat jauh hari sebelum pencalonan ibu Sutinah kita sosialisasikan. Jadi, kabar kalau petahana sudah menyatakan berpasangan kembali untuk menghadapi Sutinah, itu biasa saja. Habsi-Irwan jilid dua bahkan termasuk dalam skenario utama kita. Kita justru berharap Sutinah bisa head to head dengan petahana Pilkada Mamuju 2020," beber Yuslifar
 yang Sekretaris DPC Demokrat Mamuju itu.

Habsi-Irwan Kembali Sepaket, Bukti Keduanya Kehabisan Akal untuk Menggaet Tina

Direktur Logos Politika, Maenunis Amin menilai, pilihan Habsi-Irwan untuk berpasangan kembali adalah opsi terakhir dari keduanya jika Sutinah mengunci mati untuk maju sebagai calon Bupati.

"Sudah bisa diprediksi bahwa Habsi-Irwan akan kembali berpasangan untuk menghadapi Sutinah. Dua kalkulasi politisnya cukup menjadi indikator. Pertama Habsi-Irwan tentu mulai tidak nyaman dengan gerakan Sutinah yang semakin kencang dan mobilitas tinggi yang mulai menyentuh segmen grass root. Kedua, baik Habsi ataupun Irwan sudah kehilangan harapan menembus SDK untuk meminta bisa berpasangan dengan Sutinah. Dua kondisi inilah yang memaksa Habsi-Irwan tidak punya pilihan lain kecuali berpasangan kembali," tutur Maenunis dalam keterangan persnya.

Maenunis Amin. (Foto/Net)

Pun jika akhirnya, Pemilukada Mamuju berlangsung head to head, maka kondisi itu akan lebih menguntungkan Sutinah Suhardi dalam memetakan gerakan.

"Terutama memetakan titik potensial dimana elektabilis petahana masih belum menyentuh level aman," begitu kata Maenunis Amin. (*/Naf)