Ada yang Salah Dari Pengelolaan Kakao di Sulbar

Wacana.info
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Barat, Tanawali

MAMUJU--Luas areal perkebunan kakao di Sulawesi Barat seluas 145.786 Ha, dengan produksi sekitar 73 Ribu biji kering atau 793 Kilogram per Ha per tahun. 

Berdasarkan jumlah tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Barat, Tanawali menyebut, taraf hidup petani seharusnya sudah meningkat.

"Berarti ada yang salah di hulunya ini," ujar Tanawali saat membuka Bimbingan Teknis Sistem Jaminan Mutu Kakao di d'Maleo Hotel, Selasa (9/04). 

Tanawali berharap, kegiatan tersebut bisa dimanfaatkan untuk membahas secara tuntas segenap persoalan kakao mulai dari hilir sampai ke hulu. Permasalahan petani kakao selama ini sudah cukup memberikan pelajaran berarti, kata Tanawali.

"Pertanian kita sudah maju, cuma di ujungnya itu yang masih perlu untuk disepakati," bebernya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan, Waris Bestari menjelaskan, di masa mendatang, pihaknya akan fokus bergerak pada persoalan industri produksi kakao. Harapannya, agar semua persoalan petani kakao selama ini menjadi kendala cepat teratasi.

Lebih lanjut, Waris mengungkapkan, terbitnya revisi Permentan No 67 Tahun 2014 tentang sertifikasi bagi hasil kakao tentu menjadi angin segar bagi para petani.

"Dengan revisi itu kita harap tidak ada lagi biji kakao asalan,tidak adalagi biji kakao yang tidak terbeli," paparnya.

Revisi Permentan itu juga, sambung Waris, diikuti oleh lahirnya Surat Keputusan Bersama (SKB) bersama Menteri Pertanian, Perdagangan dan Perindustrian.

"Agar kita bisa memperbaiki mulai dari hulunya. Ketika hilir ranahnya ada di peridustrian dan perdagangan ini yang kita harapkan. Artinya butuh sinergitas instansi terkait," begitu dia.

"Bagaimana pemerintah pusat membuat regulasi bagaimana biji kakao ini, bagaimana peningkatan mutu kakao ini, harus melalui proses mulai dari pasca panen sampai permentasi ini dihargai keringat petani itu," tutup Waris Bestari.

Waris juga menyebut, untuk meningkatkan kapasitas petani kakao, pihaknya memanggil sejumlah narasumber dari  PT Tanah Mas Celebes Indah (Grup ECOM) eksportir biji kakao sertifikasi UTZ dan Peneliti dari BPTP Wilayah Sulawesi Barat. (Keto/B)