Aulia, Manda dan Firdaus; Malaikat Kecil asal Palu yang Harus Tegar Hidup di Pengungsian

Wacana.info
Reruntuhan Bangunan dan Kendaraan yang Belum Dievakuasi di Kompleks Petobo. (Foto/Mursyid Syathir)

PALU--Bencana Gempa, Tsunami serta Likuefaksi yang menerjang Palu, Sulawesi Tengah menyisahkan jutaan cerita. Kamis (1/11), Wacana.Info sempat merekam satu darinjutaan ceritas pasca musibah dahsyat ersebut. Cerita tentamng ketegaran anak-anak usia belia yang mencoba untuk tetap tersenyum di bawah tenda pengungsian.

Meski trauma pasca gempa masih menyelimuti mereka, namun hal itu tak menyurutkan niat malaikat-malaikat kecil ini untuk tetap bertahan hidup demi mewujudkan cita-cita dan mimpi-mimpinya di masa depan.

Aulia. (Foto/Mursyid Syathir)

Sebut saja Aulia, gadis cantik berusia 4 tahun ini memilih mengungsi di kaki gunung Gawalise, Bantaya, Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu. Bermain boneka barbie bersama teman-temannya, cukup membuat Aulia sedikit kembali tersenyum.

"Aulia mau jadi dokter Om," cetus Aulia saat ditanya tentang cita-citanya kelak.

Lain lagi dengan Manda, gadis cantik yang punya cita-cita menjadi Polwan. Manda yang telah diduk di bangku kelas 3 Sekolah asar itu, kini mengungsi di pengungsian Balaroa, Palu Barat.

Manda. (Foto/Mursyid Syatir)

Manda yang kini berusia 8 tahun itu mengungsi bersama tante dan neneknya. Menurut informasi, Ibu dari Manda saat ini berada di Qatar menjadi TKW, sedangkan ayahnya berdomisili di Pantai Barat.

Setelah Aulia dan Manda, aroma ketegaran juga cukup menyengat dari sosok Firdaus. Bocah yang kehilangan ibu, ayah dan kakak kandungnya akibat bencana likuifaksi di Petobo. Firdaus sendiri selamat dari likuifaksi bersama neneknya, Carida yang saat ini mengungsi di Ngatabaru, Petobo Atas, Palu Selatan.

Firdaus. (Foto/Mursyid Syathir)

Sedihnya, Bocah berumur 4 tahun itu terkadang menangis mencari ibunya sebelum bocah itu beranjak bermain bersama teman-temannya.

"Dia selalu cari mamanya itu. Kalau mau pergi main atau sekolah, dia biasa tidak mau, dia bilang tunggu mama dulu. Saya bilang sama dia, mama lagi ada pergi cari uang, itu saja saya bilang supaya dia berhenti cari mamanya," terang Carida, nenek Firdaus.

Selain Aulia, Manda dan Firdaus, masih banyak anak-anak generasi bangsa di Palu yang punya cita-cita yang sama. Mereka saat ini membutuhkan pendampingan dan pemulihan trauma. (Uci/A)