Firdaus dan Carida, Cucu dan Nenek yang Selamat dari Ganasnya Likuifaksi di Petobo

Wacana.info
Nenek Carida yang Sedang Menggendong Cucunya, Firdaus. (Foto/Istimewe)

PALU--Fenomena likuifaksi yang menelan pemukiman padat penduduk di Petobo, Palu Selatan, 28 September 2018 lalu sudah barang tentu jadi hal sulit dilupakan oleh Carida dan Firdaus.

Betapa tidak, Carida yang tak lain nenek dari Firdaus berhasil selamat dari ganasnya likuifaksi tersebut. Meskipun keduanya harus rela kehilangan anggota keluarganya yang lain.

"Ada di rumah dia di depan. Saya bersama dia (Firdaus) di depan. Jadi begitu saya dengar masjid babunyi dan baasap (berasap), langsung saya bawa lari dia, saya naik di atap rumah, kira-kira jam setengah sebelas malam saya bateriak baru bisa dikasih turun," tutur Carida dengan dialeg khas Palu saat kepada WACANA.Info, Minggu (28/10).

"Karena sudah gelap tidak ada lampu. Dia ini tetap badiam, tidak menangis," sambung Carida yang ditemui di pengungsian Ngatabaru.

Kini, Carida dan Firdaus harus rela kehilangan sanak keluarganya yang meninggal akibat fenomena likuifaksi itu. Termasuk Ibu dan ayah, serta kakak perempuan dari Firdaus.

"Kakaknya Aisyah itu juga meninggal. Saya punya anak juga sama suaminya dengan anaknya empat orang. Saya punya suami bawa anak saya yang bungsu tapi tidak selamat. Meninggal semua 13 orang. Termasuk saya punya kakak dengan istrinya, semua satu rumah itu," tambah Carida.

Fordaus, bocah berumur empat tahun itu kini menetap di Pengugsian Ngatabaru, Petobo Atas, Palu Selatan, bersama nenek Carida. (Uci/A)