Catatan Silaturrahmi Kebudayaan Cak Nun dan Kiai Kanjeng 2018 di Mamuju

Banjir Mamuju dan Risalah Cinta ala Emha Ainun Nadjib

Wacana.info
Manaf Harmay dan Emha Ainun Nadjib. (Foto/Istimewa)

Oleh: Manaf Harmay (Pemimpin Redaksi WACANA.Info)

Di panggung berukuran sedang malam itu, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menghabiskan waktu setidaknya hingga empat jam untuk membagikan sedikit dari banyak ilmu yang ada di kepalanya kepada ratusan warga Mamuju. Terpaan angin di Anjungan Pantai Manakarra, Senin (9/04) tak membuat kami-kami yang hadir sedikit pun bergeser dari lokasi acara.

Di mataku, kehadiran Cak Nun di Mamuju malam itu ibarat tetasan air di kemarau panjang. Betapa tidak, sudah sejak beberapa waktu belakangan, kota ku ini seperti tak henti didera beragam persoalan. Dan Cak Nun pun hadir membawa pencerahan yang menurutnya cukup menebar kesejukan tersendiri bagi siapa saja yang sempat hadir malam itu.

Iya, jazirah Manakarra ini seolah tak berhenti didera persoalan. 

Emha Ainun Nadjib Bersama Kiai Kanjeng di Anjungan Pantai Manakarra. (Foto/Manaf Harmay)

Masih jelas dalam ingatan kita saat luapan sungai Karema yang melululuhlantahkan sebagian besar wajak kota Mamuju. Korban pun berjatuhan. Ribuan orang terpaksa harus kehilangan tempat tinggalnya akibat derasnya luapan sungai yang dimulai oleh hujan dengan intensitas tinggi hari itu.

Musibah yang terjadi di pagi buta itu bahkan membuat sosok sekelas Menko PMK, Puan Maharani dan Wakapolri, Komjen Syafruddin Kambo bertandang ke Mamuju. Meninjau langsung para korban banjir sekaligus menyerahkan sejumlah bantuan.

Musibah banjir Mamuju tersebut memang sebuah bencana alam. Seperti kata Bupati Mamuju, Habsi Wahid saat melakukan pemantauan langsung penanganan korban banjir, 22 Maret 2018 lalu. Kala itu, ia menyebut, banjir terjadi dikarenakan debit air di sungai Karema meluap oleh karena intensitas hujan yang tinggi, serta kondisi air laut yang saat ini sedang pasang.

Emha Ainun Nadjib Bersama Kiai Kanjeng di Anjungan Pantai Manakarra. (Foto/Manaf Harmay)

Sementara itu, Wakapolri, Komjen Syafruddin Kambo dalam kunjungannya di Mamuju 27 Maret 2018 yang lalu menyebut banjir sebagai sebuah bencana alam yang disebabkan oleh beberapa faktor. Selain karena kondisi pasang air laut dan penataan drainase yang kurang baik, jenderal polisi bintang 3 itu juga menuding aktivitas penebangan pohon di wilayah hulu sungai sebagai salah satu penyebabnya.

Cak Nun dalam pencerahannya tadi malam sempat menyinggung soal kadar kecintaan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama manusia, serta dengan alam semesta. 

Di selingi oleh beberapa versi sholawat yang dimainkan oleh Kiai Kanjeng, Cak Nun yang berbicara dalam diskusi kebudayaan bertajuk 'Risalah Cinta' malam itu menegaskan bahwa sebagai khalifah di muka bumi ini, manusia juga punya kewajiban untuk terlibat aktif dalam usaha menjaga dan melestarikan lingkungan.

Kedudukan manusia, hewan dan tumbuhan dalam satu sisi tertentu memiliki ikatan persaudaraan yang cukup erat. "Sebelum manusia diciptakan Tuhan, jauh sebelumnya Tuhan telah menciptakan alam semesta," kata Cak Nun di hadapan ratusan orang yang sempat hadir malam itu.

Artinya apa, dalam kaca mata yang lebih jauh, manusia dan alam semesta sesungguhnya punya ikatan persaudaraan (yang mestinya) sangat erat. Alam semesta, mereka yang terdiri dari tumbuhan, binatang dan semua yang ada di dalamnya adalah kakak kandung dari kita umat manusia dalam konteks penciptaannya oleh Sang Khalik.

Bahwa memang betul, banjir di kota Mamuju terjadi karena bencana alam. Tapi, idealnya kita semua mesti melihat kejadian itu secara utuh. Ia menjadi bencana tentu disebabkan oleh rentetan sebab yang terjadi sebelum-sebelumnya.

Konsep cinta yang disampaikan Cak Nun di Mamuju banyak menyinggung bagaimana manusia untuk mampu menebar cinta kepada 'saudara' kita sendiri; alam semesta.

"Jangan kau jahat dengan pohon sekalipun. Bagaimanapun, ia itu sudaramu sendiri," ayah dari vokalis band Letto, Noe itu.

Hal yang bisa saya tarik dari ucapan Cak Nun di atas bahwa adalah hal yang kurang tepat jika kita menyalahkan curah hujan, menyalahkan debit air laut, lebih-beih menjadikan takdir sebagai penyebab utama dari musibah banjir tersebut. Hendaknya kita semua bisa dengan lebih bijak melihat peristiwa yang juga ikut merendam berton-ton beras milik Bulog Mamuju itu.

Emha Ainun Nadjib Bersama Kiai Kanjeng di Anjungan Pantai Manakarra. (Foto/Manaf Harmay)

Sebagai 'khalifattullah' di muka bumi ini, kita manusia hendaknya bisa menebar cinta dan kasih sayang kita ke semua yang ada di alam semesta ini. Menebang pohon di wilayah hulu sungai, membuang sampah sembarang tempat, apakah dengan cara itu kita mengaktualisasikan cinta dan kasih sayang kita ke 'saudara-saudara' kita itu ?.

Jika pun akhirnya alam murka lewat banjirnya, jangan salahkan alam dong. Bukankah Tuhan sudah dengan tegas menyebut dalam Alquran; "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)," (QS Ar-Rum Ayat 41)

Jika kita ingin mendapat berkah dari alam dan isinya, hendaknya kita manusia membuktikan betapa besar cinta dan kasih sayang kita ke alam semesta, ke 'saudara-saudara' kita itu.

Semoga kita senantiasa mendapat keberkahan dari setiap gerak dan aktivitas kitra sehari-hari...

Banana Nugget, Selasa, 10 April 2018