Demo Berlanjut di Kantor Bupati, Ini Kata Irwan pababari

Wacana.info
Aksi Demo Mahasiswa dan Korban Banjir di Kantor Bupati Mamuju. (Foto/Istimewa)

MAMUJU--Puas melakukan aksi unjuk rasa di DPRD Mamuju, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Mamuju bersama korban banjir bandang melanjutkan aksinya di kantor Bupati Mamuju, Senin (2/04).

Ketua Umum PMII cabang Mamuju, Rusdi Nurhadi dan koordinator lapangan Irwan Ade Saputra memimpin jalannya aksi tersebut. 
Mereka membawa tuntutan yang sama, menuntut hak-hak para korban banjir yang sampai hari ini dianggap belum disalurkan oleh pemerintah kabupaten Mamuju.

"Intinya hari kita menuntut hak-hak rakyat. Kami sudah merasakan bagaimana penderitaan masyarakat. Bagiamana mereka saat hujan deras datang yang tinggal di tenda-tenda darurat," ungkap Hajrawati., salah seorang orator yang mewakili warga.

"Masyarakat saat ini tidak butuhnya sembako. Sembako sudah terlalu banyak. Yang mereka butuhkan kurang lebih 59 kepala kekuarga adalah bantuan material perbaikan tempat tinggal, seperti balok, papan, atap tiang dan paku. Soal kebutuhan makan, biar mereka sendiri yang atur kalau sudah punya rumah," sambungnya.

Para pengunjuk rasa membentankan spanduk dan puluhan pataka yang bertuliskan tuntutan mereka. Aksi tersbut diterima oleh Wakil Bupati Mamuju, Irwan Pababari, Kepala BPBD Mamuju dan Kadis Sosial Mamuju, Basist di depan pintu kantor Bupati.

"Bupati harus tegas dan serius terkait dengan buruknya sistem drainase perkotaan yang mengakibatkan genangan air di hampir semua sudut ibu Kota. Hujan hanya sejam, hampir seluruh daerah terdapat genangan air. Ini menandakan lemah dan buruknya kinerja eksekutif dan legislatif," kata Ketua PMII Cabang Mamuju, Rusdi Nurhadi.

"Banyak penyempitan aliran sungai di dalam kota Mamuju. Kanal-kanal terjadi pendangkalan dalam kota, banyak bangunan permanen yang melanggar dan kami juga sangat kecewan pernyataan pihak dinas kebersihan yang menyatakan hanya membersihkan sampah yang tampak di depan mata,"cetusnya.

"Pemerintah tidak boleh menutup mata soal itu. Banjir memang bencana alam, tapi tidak boleh dipisahkan perbuatan manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab yang hanya mengedepankan keuntungan," begitu kata dia.

Irwan Pababari yang menerima massa aksi mengaku berterima kasih atas aksi tersebut. Menurtunya, apa yang dilakukan mahasiswa dan masyarakat itu adalah sebuah partisipasi dan bentuk kepedulian atau rasa empati terhadap kondisi daerah Mamuju.

"Di mana kami dianggap tidak maksimal dalam melakukan penanganan korban banjir. Sehingga ini akan menjadi evaluasi kami selaku pemerintah," ungkap Irwan.

"Kami tidak akan tutup mata terkait hal itu. Menyangkut hal ini, sebentar saya akan bentuk tim khusus untuk menangani sampah-sampah yang masih menumpuk. Saya juga akan perintahkan Satpol PP untuk memberikan teguran ke manajemen hotel Berkah untuk melakukan pembongkaran," tegas mantan Wakil Ketua DPRD Mamuju itu.

Ia pun menjanjikan penyaluran dana rekonstruksi untuk rumah yang rusak untuk segera dilakukan.

"Kami akan tanggung semua. Rumah-rumah kami akan atur dengan baik. Karena masalahnya saat ini ternyata sebagian saudara kita tidak memiliki hak kepemilikan tanah, sehingga kita masih melakukan koordinasi apakah mereka masih mengizinkan atau tidak," begitu jelas Irwan Pababari, Ketua DPD Hanura Sulawesi Barat itu. (*/Naf)