Kakek Daeng Siga dan Nenek Daeng Lebang, Kisah Pejuang yang Terbuang Zaman

Wacana.info
Kakek Daeng Siga dan Nenek Daeng Lebang. (Foto/Hamzah)

POLMAN--Terbilang masih di pusat kota Polman, hanya berjarak beberapa kilometer saja dari jantung kota, hidup sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Kakek Daeng Siga dan Nenek Daeng Lebang yang menetap di dusun Kontara, desa Rea Timur, Kecamatan Binuang, Polman.

Keduanya hidup di atas tanah milik orang lain. Memilih tinggal di sebuah gubuk kecil beratapkan seng yang penuh tambalan. Lantai gubuknya terbuat dari bambu yang sudah lapuk dengan dinding anyaman pelepah rumbia.

Kondisi Nenek Daeng Lebang  yang sudah pikun dan lumpuh kurang lebih 2 tahun belakangan menambah derita keduanya. keduanya pun tak punya anak ataupun sanak keluarga lainnya.

Kediaman Kakek Daeng Siga dan Nenek Daeng Lebang. (Foto/Hamzah)

Keduanya hidup hanya berharap belas kasihan dari orang-orang yang peduli kepadanya. Keduanya juga mengaku sudah beberapa tahun belakangan tidak mendapatkan jatah beras miskin apa lagi bantuan pemerintah lainya.

''Adami kurang lebih dua tahun tidak menerimaka beras Raskin semenjak tergantimi Kepala Desa," ungkapnya. 

Daeng Siga merupakan veteran dari kabupaten Maros yang memilih hijrah Ke Polmas (Kini Polman) sekitar tahun 1958 yang lalu. Dari keterangan Daeng Siga dan istrinya, keduanya diajak oleh seseorang untuk bekerja mengelola empang di sekitar wilayah Polman. 

Kini, di usianya yang sudah rena, Daeng Siga sudah tidak bisa lagi bekerja akibat penyakit asma dan katarak yang dideritanya. Ditambah lagi umur yang  sudah menginjak 90 Tahun memaksanya untuk hanya bisa duduk lesu mengharap kebaikan hati orang lain.

''Sudah lama ma tidak kerja Nak. Karena umurku yang sudah 90 Tahun. Tua meka, apa lagi nakenaka juga penyakit katarak sama asma,' urainya.

Di tengah himpitan hidup terpancar sebuah semangat yang kuat dari wajah Daeng Siga. Wajah seorang veteran yang terbuang dan seolah jasa-jasanya terlupakan oleh zaman. (Hamzah/Naf)